Kereta Cepat Sebagai Pionir Transportasi Masa Depan di Indonesia

Kereta Cepat Sebagai Pionir Transportasi Masa Depan di Indonesia

 

Jumlah penduduk yang semakin meningkat menyebabkan permintaan untuk moda transportasi massal semakin meningkat. Selain dapat mengurangi tingkat kemacetan, transportasi massal deasa ini menawarkan kenyamanan dalam perjalanannya dengan berbagai inovasi. Inilah membuat masyarakat lebih memilih transportasi umum dibanding menggunakan kendaraan pribadi,. Salah satu moda transportasi yang sedang gencar-gencarnya dilakukan adalah kereta cepat. Kereta cepat adalah kereta yang mampu melaju dengan kecepatan lebih dari 250 km/jam. Kereta api cepat di Indonesia dibangun oleh KCIC (Kereta Cepat Indonesia Cina) dan dirancang dengan kecepatan rata-rata 350 km/jam. Rute yang dilayani yaitu dari Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta menuju stasiun Tegal Luar yang terletak dikabupaten Bandung dengan panjang jalur 142,3 km.

Gambar 1. Rute Kerata Api Cepat Jakarta-Bandung

            Trase jalan kereta cepat Jakarta-Bandung ini akan melewati 9 kabupaten-kota yang terdiri dari Jakarta Timur (di Provinsi DKI Jakarta), Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kota Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Bandung, dan Kabupaten Bandung (di Provinsi Jawa Barat) dan akan terdapat sebanyak 3 stasiun (Halim, Karawang, Walini) dan 1 Tegalluar stasiun berikut Depo untuk pemeliharan gerbong dan lokomotif.

Dengan kecepatan yang setinggi ini maka diperlukan ketelitian yang sangat tinggi dan geometri rel nya berbeda dengan rel kereta biasa antara lain dari jari-jari lengkungan yang digunakan harus besar, tanjakan maupun turunan tidak diperbolehkan mendadak serta tidak diperbolehakan masyarakat melintasi rel kereta cepat sehingga rel terlindungi dengan tujuan meminimalisir kecelakaan dikarenakan dengan kecepatan tinggi diperlukan waktu pemberhentian yang cukup jauh dan lama.

Proyek kereta cepat ini sebagian melewati jalan tol, sehingga dapat meminimalisir biaya pembebasan lahan serta tidak dapat menggunakan rel eksisting kereta biasa, karena spesifikasi kereta cepat berbeda dengan kereta biasa. Maka dibangun rel sepanjang 142,3 km dan meliputi

  1. Cutting (rel berada di Cekungan) = ± 15,65 km (11 %)
  2. Embankment (rel berada di atas timbunan) = ± 38,86 km (26,96 %)
  3. Tunnel (rel melalui terowongan) = ± 21,667 km (15,23 %)
  4. Elevated/ bridge (rel diatas jembatan) = ± 66,62 km (46,81 %)

Dari keempat jenis rel diatas, rel yang berada diatas tanah memiliki perawatan yang lebih sulit dikarenakan tanah memiliki kemampunan untuk mengalami kembang susut yang pastinya akan merubah bentuk rel, sedangkan dengan kecepatan yang tinggi memerlukan ketelitian yang cukup tinggi pula. Sehingga tidak diperbolehkan untuk tanah turun, mengembang atau bergeser. Sehingga pihak KCIC setiap paginya sebelum kereta cepat beroperasi maka dilakukan inspeksi pengecekan rel serta sistem sinyal oleh kereta inspeksinya.

Gambar 2. Manfaat kereta cepat bagi wilayah yang dilewatinya

Manfaat dari pembangunan kereta cepat ini antara lain :

  • Penciptaan lapangan perkerjaan
    • Periode konstruksi kereta cepat 39.000 orang selama 3 tahun.
    • Periode Keonstruksi kawasan TOD (transit oriented development) mencapai 20.000 orang selama 15 tahun.
    • Periode operasional kawasan kereta sekitar 28.000 orang selama 25 tahun.
    • Pengembangan kota baru yaitu Walini sebagai sentra ekonomi baru dan mendorong kawasan hunian.
    • Mengurangi kemacetan lalulintas dan mempercepat jarak tempuh.
    • Meningkatkan pendapatan negara melalui pajak
    • Penciptaan sentra-sentra ekonomi baru serta menciptakan bisnis kecil khususnya dari usaha kecil menengah disekitar stasiun.

Proyek ini sudah memiliki analisis dampak lingkungan (AMDAL), dokumen AMDAL sudah selesai sebelum groundbreaking pada 21 Januari 2016 serta dari pengembangan awasan hijau di Walini hanya diambil 30 % saja dari kondisi eksisting.

Gambar 3. Kereta Cepat yang akan dioperasikan

Dalam konstruksi kereta ini dilaksanakan oleh BUMN Indonesia, selain ini dibantu oleh BUMN dari cina dan mendatangkan tenaga ahli dari cina. Kereta yang digunakan merupakan kereta yang di impor dari cina dikarenakan belum adanya teknologi kereta cepat di Indonesia sebelumnya. Untuk harga tiket yang dijual 50 tahun pertama sejak kereta beroperasi dengan rute dari Bandara Halim Perdanakusuma – Stasiun Tegal luar yaitu $16 atau sekitar Rp. 200.000,-.

Namun, kereta cepat dalam pengoperasiaanya harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak mematikan moda transportasi lain seperti kereta biasa ataupun pesawat terbang. Sehingga diperlukannya pengaturan lebih lanjut oleh pemerintah tentang kereta cepat ini.

 

 

 

SUMBER :

  • Wawancara dengan bapak Dr. Ir. Bambang Riyanto, DEA
  • Kunjungan Kereta Cepat Indonesia Cina
  • Kementrian Perhubungan
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*