, , ,

BKT Sebagai Pengendali Banjir Di Semarang, Apakah Sudah Optimal?

 

A.    Banjir Kanal Timur

BKT adalah kanal buatan yang berada di bagian Timur Kota Semarang yang  merupakan konsep pengendalian banjir yang telah lama dibuat untuk mengatasi banjir akibat hujan lokal dan aliran dari hulu. BKT dibangun dengan harapan memiliki fungsi sebagai berikut:

1. mampu mengurangi ancaman banjir di kawasan yang rawan mendapat genangan, seperti kawasan permukiman, industri, dan pergudangan.

2. prasarana konservasi air untuk pengisian kembali air tanah dan sumber air.

3. mampu meningkatkan keseimbangan ekosistem.

4. memperkuat infrastruktur pengendalian sumber daya air di wilayah timur.

 

B. Sistem BKT yang kurang optimal

Permasalahan yang terjadi di Kota Semarang Timur adalah banjir yang diakibatkan adanya  hujan deras dimana sistem yang ada tidak mampu menampung debit air datang, hal ini lah yang menyebabkan banjir belum dapat teratasi. Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasinya dengan pembangunan bendungan Jatibarang, perbaikan Kanal Bnjir Barat, pembanguna  rumah pompa dan kolam retensi kali semarang, serta pembangunan polder Banger.

Metode keandalan yang dikembangkan di Belanda tidak universal dan langsung diterapkan di Indonesia, oleh karena itu perlu kajian pemantapan dalam pemanfaatan metode tersebut. HEC-HMS (Hydrologic Engineering Center’s Hydrologic Modeling System) merupakan model hidrologi sebagai alat bantu yang digunakan bersamaan dengan perangkat lunak SIG guna memudahkan dan meningkatkan keakuratan dalam mempredikasi puncak dan volume debit banjir guna perancangan drainase perkotaan . Teknik analisis hidrologi HEC-HMS ini dapat menganalisis banjir perkotaan dengan penggunaan lahan yang komplek dan dapat menelusuri banjir dengan mengkaji volume kolam tampungan dan kapasitas pompa. Predictive Control merupakan model yang dimanfaatkan guna meminimalkan kegagalan operasi pompa dalam menanggulangi debit banjir yang ekstrim.

C. Solusi Permasalahan Banjir di Semarang Timur

Hal yang dilakukan adalah  mempelajari sistem operasi dan pemeliharaan yang efisie, jadi pada penelitian tahap kedua perlu disusun sistem pengelolaan polder yang berbasis masyarakat sehingga biaya pemeliharaan tidak membebani anggaran pemerintah.

Saat ini pengoperasian yang optimal dari suatu sistem drainase merupakan kesulitan yang paling utama dalam menanggulangi permasalahan sampah yang meningkatkan biaya operasi dan pemeliharaan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*