Tanah Semarang Utara Ambles Tiap Tahun, Apa Penyebabnya?

tumblr_nyxjok5v9l1v0zotlo1_500

tumblr_nyxjok5v9l1v0zotlo2_1280

 

Kawasan Semarang Utara
Semarang Utara merupakan daerah kecamatan yang berada di pesisir utara Kota Semarang yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Kecamatan Semarang Utara memiliki luas 1.135,275 ha yang mencakup 9 kelurahan yaitu Kelurahan Bandarharjo, Bulu Lor, Plombokan, Purwosari, Panggung Kidul, Panggung Lor, Kuningan, Tanjung Mas, dan Dadapsari. Jumlah penduduk Semarang Utara per Oktober 2015 adalah sebesar 143.109 jiwa (Dispendukcapil Kota Semarang, 2015) dengan kepadatan 12.606 penduduk setiap 1 km2.

Amblesan Semarang Utara
Kawasan Semarang Utara merupakan dataran rendah dengan jenis tanah aluvium yang masih muda dimana jenis tanah ini secara terus-menerus mengalami pemampatan (compaction). Jenis tanah dan besarnya pembebanan pemukiman inilah yang mengakibatkan penurunan tanah/tanah ambles  di kawasan Semarang Utara. Dari hasil penelitian Tobing, dkk. (2000) menjelaskan bahwa amblesan tanah (land subsidence) pada dataran aluvial di sebagian Kota Semarang mencapai 8 cm per tahun terjadi di Tanjung Mas ke arah timur hingga pantai di wilayah Kecamatan Genuk dan sebagian Kecamatan Sayung yang masuk wilayah Kabupaten Demak kemudian disusul daerah Bandarharjo sekitar 10-15 cm per tahun, Tanah Mas, Stasiun Tawang, Karang Tengah, Marina dan Tawang Mas 5-10 cm per tahun. Di daerah selatan dan tenggara seperti Bangetayu dan sekitarnya amblesan tanah umumnya kurang dari 5 cm per tahun. Sementara dari hasil penelitian Risty Khoirunisa/Teknik Geodesi Undip (2015) menyatakan bahwa penurunan tanah di Semarang Utara sekitar 0,83-13,935 cm per tahun.

Dampak Akibat Adanya Amblesan
Dampak yang terjadi akibat adanya amblesan di kawasan Semarang Utara di antaranya adalah banjir, baik itu banjir akibat rob (air laut pasang) maupun banjir akibat adanya hujan dengan intensitas tinggi. Inilah penyebab mengapa Semarang Utara kerap menjadi langganan banjir. Selain banjir, tanah ambles (land subsidence) juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur seperti jalan, saluran drainase maupun kerusakan terhadap bangunan-bangunan setempat (pondasi,dinding,dsb).

Rekayasa Sipil Untuk Mengatasi Amblesan
Menurut Ir. Muhrozi M.S (Dosen Teknik Sipil Undip), “Cara yang tepat untuk mengatasi tanah ambles (land subsidence) adalah dengan penerapan metode Pre-loading with Vaccum, Vertical Drain, maupun dengan Stone Column”. Ketiga metode tersebut merupakan jenis perbaikan tanah yang efektif untuk mengatasi amblesan. Vertical Drain ditujukan untuk mempercepat waktu konsolidasi, biasanya dikombinasikan dengan pekerjaan Pre-Loading dengan maksud memberi beban pada tanah sehingga air terkandung dalam tanah bisa termobilisasi keluar dengan lebih cepat. Sementara pemasangan Stone Column adalah suatu metode perbaikan tanah untuk meningkatkan daya dukung tanah yang lembek sehingga dapat menerima beban lebih besar dan mengurangi pemampampatan secara efektif.

Sumber :

  • Survey dan Wawancara Ir. Muhrozi M.S – Dosen Geoteknik JTS Undip
  • Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Semarang 2015
  • Jurnal Ilmiah Risty Khoirunisa (2015) : Analisis Penurunan Muka Tanah Kota Semarang Tahun 2015 Menggunakan Perangkat Lunak Gamit 10.5/Teknik Geodesi Undip/Semarang.
  • Jurnal Ilmiah Tobing, dkk (2001) : Evaluasi Geologi Teknik Penurunan Muka Tanah  (Land Subsidence) Daerah Semarang dan Sekitarnya Propinsi Jawa Tengah/DGTL/Bandung.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*